.quickedit{ display:none; }

Sabtu, 22 Oktober 2011

Seputih Melati



Melati tak pernah berdusta dengan apa yang ditampilkannya.
Ia tak memiliki  warna dibalik warna putihnya..
Ia juga tak pernah menyimpan warna lain untuk berbagai keadaannya,,
Apapun kondisinya,panas,hujan,terik ataupun badai yang datang ia tetap putih.
Kemanapun dan dimanapun ditemukan,melati selalu putih
Putih bersih,indah berseri di taman yang asri

Pada debu ia tak marah,meski jutaan butir menghinggapinya
Pada angin ia menyapa,berharap sepoinya membawa serta debu-debu itu agar Ia tetap putih berseri
Karenanya,melati ikut bergoyang saat hembusan angin menerpa
Ke kanan ia ikut,ke kiri pun ia ikut
Namun ia tetap teguh pada pendiriannya,,
Karena kemanapun ia mengikuti arah angin, ia akan segera kembali pada tangkainya

Pada hujan ia menangis, agar tak terlihat matanya meneteskan air di antara ribuan air yang menghujani tubuhnya
Agar siapapun tak pernah melihatnya bersedih,
Karena saat hujan berhenti menyirami,bersamaan itu pula air dari sudut matanya yang bening itu tak lagi menetes...
Sesungguhnya ia senantiasa berharap hujan kan selalu datang,
Karena hanya hujan yang mau memahami setiap tetes airmatanya...
Bersama hujan ia bisa menangis sekeras-kerasnya,untuk mengadu,saling menumpahkan air mata dan merasakan setiap kegetiran..
Karena juga,hanya hujan yang selama ini berempati terhadap semua rasa dan asanya
Tetapi,pada hujan juga ia mendapati keteduhan,dengan air nya yang sejuk

Pada tangkai ia bersandar,agar tetap meneguhkan kedudukannya,
Memeluk erat setiap sayapnya,
Memberikan kekuatan dalam menjalani kewajibannya menserikan alam..
Agar kelak, apapun cobaan yang datang ia dengan sabar dan suka cita merasai,
Bahkan menikmatinya sebagai bagian dari cinta dan kasih Sang Pencipta
Bukankah tak ada cinta tanpa pengorbanan ?
Adakah kasih sayang tanpa cobaan ?

Pada dedaunan ia berkaca,
Semoga tak merubah warna hijaunya,
Karena dengan hijau daun itu ia tetap sadar sebagai melati harus tetap berwarna putih..
Jika daun itu tak lagi hijau, atau luruh oleh waktu, kepada siapa ia harus meminta koreksi atas cela dan noda yang seringakali membuatnya tak lagi putih..


Pada bunga lain ia bersahabat,
Bersama bahu membahu menserikan alam
Tak ada persaingan, tak ada perlombaan menjadi yang tercantik,
Karena masing-masing memahami  tugas dan peranannya..
Tak pernah melati iri menjadi mawar,dahlia,anggrek atau lili, begitu juga sebaliknya,
Tak terpikir melati berkeinginan menjadi merah atau kuning,karena ia tahu semua fungsinya sebagai putih...

Pada matahari ia memohon,tetap berkunjung di setiap pagi mencurahkan sinarnya yang menghangatkan,
Agar hangatnya membaluri setiap sel tubuh yang telah beku oleh pekatnya malam,
Sinarnya yang menceriakan,bias hangatnya yang memecah kebekuan,
Seolah membuat melati merekah dan segar di setiap pagi,
Terpaan sinar mentari,
Memantulkan cahaya kehidupan yang penuh gairah,
Pertanda melati siap mengarungi hidup,
Setidaknya untuk satu hari ini hingga menunggu mentari esok kembali bertandang...

Pada malam ia berbagi,
Menebar aroma semerbak mewangi nan menyejukkan setiap jiwa yang bersamanya,
Indah menghias harumi semua taman yang disinggahinya,
Melati tak pernah terlupakan untuk dosertakan,
Atas nama cinta dan keridhoan pemiliknya, ia senantiasa berharap tumbuhnya tunas-tunas melati baru,
Agar kelak meneruskan peranannya sebagai bunga yang putih,
Yang tetap berseri di semua suasana alam...

Pada unggas ia berteriak,
Terombang-ambing menghindari paruhnya atas tak segera pupus..
Mencari selamat dari cakar-cakar yang merusak keindahannya,
Yang mungkin merobek layarnya dan juga menggores luka di putihnya...

Dan pada akhirnya,
Pada Sang Pemilik Alam ia meminta,
Agar dibimbing dan dilindungi selama ia diberikan kesempatan untuk melakoni setiap perannya,
Agar dalam berperan menjadi putih,tetap diteguhkan pada warna aslinya,
Tidak membiarkan apapun merubah warnanya,
Hingga masanya mempertanggungjawabkan semua waktu,peran,tugas dan tanggungjawabnya,
Jika pada  masanya ia harus jatuh,luruh ke tanah,
Ia tetap sebagai melati, seputih melati..
Dan orang memandangnya juga seperti melati....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar